Kesederhanaan Tidak Harus Mahal


Inilah realita hidup dan bagaimana cara masing-masing orang menyingkapinya, tentulah berbeda jika kita perbandingkan satu dengan yang lain. Bayangkan saja ketika seseorang lebih mementingkan kebutuhan fisik (jasmani) dibanding dengan kerohanian mereka apa yang terjadi? Ini bukan masalah mana yang lebih penting atau mana yang kurang penting tetapi bagaimana kita mengatur dan menyeimbangkan kebutuhan tersebut supaya bisa seimbang dan masing-masing bisa terpenuhi. Lalu bagaimana cara mengetahuinya?? Mari kita bahas ulasan berikut ini cara memaknai kebutuhan fisik dengan cara belajar mencukupkan diri.

Belajar mencukupkan diri tentu bukanlah hal mudah, karena proses tersebut  menuntut kemauan dan mendidik masing-masing kita untuk mensyukuri apa yang sudah diterima dan apa yang sudah dinikmati. Tentu bukan berhenti sampai disitu saja, bagi saya pribadi apa yang sudah diterima wajib dipertanggungjawabkan dan diteruskan untuk dibagikan kepada orang lain. Banyak hal yang bisa kita kerjakan contoh saja memperhatikan hal-hal kecil dan itu sangat berpengaruh kenapa tidak?. Ketika kita sudah dipercayakan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil pasti akan ditambahkan pekerjaan yang lebih besar karena kita mampu dan sanggup untuk mengerjakannya.

Lalu apa bedanya ketika kita berambisi untuk menjadi sukses dengan cara yang tidak benar? Bukankah cara tersebut mencerminkan tindakan kerja keras kita?. Perlu dipahami ketika sedang mengerjakan pekerjaan yang berorientasi kepada untung saja dan tidak mempedulikan dampak dari apa yang sudah dikerjakan, menurut saya itu sudah salah besar. Hasil bukan untuk dinikmati sendiri, tetapi juga harus dibagikan kepada orang lain dan itu sudah semestinya harus dikerjakan. Semoga saja cara pikir dan tindakan kita bisa terkontrol dan setiap apa yang sudah diputuskan dan dikerjakan bisa menjadi berkat bagi orang lain.

No comments:

Post a Comment

Silahkan teman-teman memberikan komentar, kritik dan saranya.

 

Iklan